Bagaimana Materialisme Menghancurkan Kemasyarakatan
Ketika krisis ekonomi muncul, selalu ada pertanyaan apakah keserakahan adalah penyebabnya. Keserakahan ini tidak selalu menjadi akar masalah, sedikit lebih kompleks daripada itu. Pagar melawan keserakahan dalam kapitalisme tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain yang menyertainya. Keserakahan juga ada didalam kekuasaan. Power datang dengan uang. Inilah sebabnya mengapa pemerintah besar sama bahayanya dengan monopoli korporasi. Orang-orang yang memiliki kekuatan cenderung rusak oleh itu. Sebagai manusia, kita semua cenderung untuk bersandar ke arah materialisme dalam tindakan kita, dan menemukan makna pribadi kita serta nilai-nilai kehidupan kita.
Ada sedikit unsur spiritual terhadap masalah materialisme. Sedikit pandangan terhadap dunia yang berbahan bakar keserakahan.
Masyarakat kita memeluk pandangan dunia naturalisme yang merupakan bagian dari materialisme. Naturalisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah terbatas pada sesuatu yang terlihat dan segala sesuatu mempunyai unsur fisik. Naturalisme mangabaikan aspek keidupan rohani, karena menurutnya kehidupan rohani adalah takhayul. Kita cenderung bergerak kearah pencarian nilai pribadi pada sesuatu yang bisa kita kendalikan.
Di Indonesia, tingkat kebahagiaan seseorang terukur dari seberapa kaya dia. Hampir mirip dengan sistem kasta. Ada unsur materialisme dibaliknya. Kita telah menyepakati bahwa kebenaran objektif hanya ditemukan di matematika dan sains, kita menolak kebenaran yang ada diluar penglihatan, pendengaran, perasaan kita. Namun ada kebenaran non-fisik dimana kita bisa menemukan makna tujuan hidup kita.
Negara menciptakan sistem pendidikan bukan pada penerdasan, tetapi kesiapan untuk bekerja. Inti dari pendidikan sekarang adalah menciptakan calon-calon pekerja baru. Kita membiarkan marjinalisasi iman dan penekanan pandangan dunia yang materialistik mendominasi kehidupan kita. Kehidupan kita diatur oleh filsafat postmodern yang menyangkal kebenaran objektif.
Setiap individu dapat merenungkan masalah ini dengan berpegangan pada kitab suci imannya. Karena pada akhirnya kebenaran mutlaklah yang akan membimbingnya.

Recent Comments