Home > Social > Pendidikan Yang Membodohkan

Pendidikan Yang Membodohkan

Siapa sih yang tidak ingin sekolah saat ini? Dan para orang tua juga ingin anak-anak mereka bersekolah. Bahkan negara menganjurkan agar warga negaranya bersekolah. Sebenarnya apa tujuan sebenarnya dari sekolah? Pada posting kali ini saya akan berpikir dari sudut pandang yang berbeda (mungkin).

Bagi anak-anak, sekolah adalah tempat bermain yang menyenangkan. Banyak teman, banyak mainan, arena yang luas, dan lain sebagainya. Sampai kejenjang yang lebih tinggi asumsi ini tetap terbawa. Ya, sekolah adalah tempat bermain dan berkumpul dengan teman-teman, hanya segelintir anak yang bisa memilah esensi dari bersekolah ini.

Oh, bersekolah itu untuk menimba ilmu…..kata salah seorang siswa di kelas saya. Karena saya tertarik dengan jawabannya, saya balik bertanya, "ilmu seperti apa yang kamu mau?". Diam….itu jawabannya. Yah, karena mereka belum memahami makna sebenarnya untuk apa mereka bersekolah. Mereka tidak tahu apa yang sedang dipelajari dan untuk apa mereka mempelajari sekian banyak subjek. Apakah semua subjek itu berguna nantinya bagi hidupnya?

Sekarang sedang digalakkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan lingkungan dan latar belakang siswa. Bahkan sampai materinyapun dibuat mendekati kehidupan sehari-hari siswa. Faktanya, sedikit guru dikelas yang bisa mengaplikasikannya, yang lain tetap pada metode klasik. Design pembelajaran yang dibuat hanya copy paste saja, sebagai syarat administrasi. Jika gurunya seperti ini, mau berharap siswa memahami esensi pendidikan?

Bagi para orang tua yang menyekolahkan anaknya bertujuan agar nantinya si anak ini mempunyai bekal menghadapi masa epan yang lebih baik dari dirinya. Mendapat pekerjaan yang bergaji berlipat darinya. Memperbaiki perekonomian keluarga dan status sosial. Itu tujuannya. Tetapi apa hasilnya? Ketika si anak ini lulus dengan gemilang dan mendapat pekerjaan yang sangat baik benefitnya, dia tinggal sangat jauh dari rumah orang tuanya. Pulang kerumah hanya setahun sekali (itu kalau memungkinkan), belum kalau dia segera berkeluarga. Tercapaikah tujuan si orang tua ini?

Bagi negara, jika banyak anak yang bersekolah, maka bisa memilih calon-calon pemimpin dan pekerja yang handal. Sehingga kelangsungan hidup negara ini terus berkembang. Didoktrin dengan berbagai dogma agar warga negaranya fanatik (nasionalisme?). Gedung tinggi dan perusahaan-perusahaan besar berhasil dibangun. Pengolahan aset alam termaksimalkan. Perekonomian dan keuangan negara membaik. Tapi kenapa masih banyak yang tidak mempunyai kesempatan untuk menikmatinya? Apa pembangunan ini hanya untuk kalangan tertentu saja? Hanya untuk orang-orang terdidik saja? Sebenarnya pembangunan apa yang diinginkan?

Hhh…terserahlah…seperti posting saya sebelumnya, kita hidup dalam dunia materialistis. Segala sesuatunya terukur secara materi. Mungkin anda mempunyai pendapat yang berbeda?

Categories: Social
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.