Home > Religions > Jika Saya Mengaku Nabi – Salahkah?

Jika Saya Mengaku Nabi – Salahkah?

Masih ingat kan baru-baru ini ada orang yang mengaku dirinya sebagai seorang Nabi? Heboh sekali, banyak cercaan yang ditujukan kepadanya dan bahkan ada kelompok yang ingin meminta pertanggung jawaban atas pengakuannya itu. Entah wujud pertanggung jawaban macam apa yang diminta. Sampai-sampai Nabi baru ini (pengakuannya) diburu sampai ke tempat persembunyiannya.

Salahkah jika seseorang mengaku dirinya seorang nabi? Pertanyaan ini yang akan kita bahas. Mungkin anda bisa langsung menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan kepercayaan yang anda anut atau referensi anda yang lain. Disini saya akan memberikan penilaian lain untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas.

Pertama saya akan mencoba mengingat kembali definisi nabi. Seorang dikatakan sebagai nabi jika dan hanya jika dia bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan dan menerima perintah langsung dari Tuhan. Pengertian ini saya peroleh saat saya mengikuti pelajaran agama saat sekolah dulu, betul tidaknya entah. Tetapi dari definisi ini muncul beberapa pertanyaan.

  1. Tuhan adalah abstrak, bukan materi, lantas bagaimana seseorang bisa mengklaim dirinya telah bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan dalam segala bentuk manifestasinya?
  2. Bagaimana membedakan manifestasi Tuhan dengan yang bukan Tuhan?
  3. Jika Tuhan menggunakan jasa pihak ketiga (misalnya malaikat atau apapun bentuknya), apakah bisa dijamin kredibilitas "perintah" tersebut? Sementara kita (tepatnya saya) belum mengetahui Tuhan sama sekali. (Ini seperti Charly’s Angel, seorang agen yang tidak tahu siapa bosnya untuk melaksanakan misi tertentu.)
  4. Dari sejarah para Nabi, mereka bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan ketika mereka sendirian, tidak ada saksi, lalu bagaimana menilai kebenarannya?

Mungkin ada banyak lagi pertanyaan yang sifatnya meragukan keabsahan seseorang dikatakan sebagai nabi. Mungkin diantara anda yang memahami betul tentang ketuhanan bisa memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut secara logis agar mudah dicerna dan tidak bersifat memaksakan atau mendoktrin.

Kemudian jika ada seseorang yang mengaku dirinya telah berkomunikasi dengan Tuhan secara langsung, bagaimana kita bisa mempercayainya? Biasanya tidak ada bukti konkret yang mendukung pernyataannya. Bagaimana kita bisa tahu pernyataannya benar? atau salah? Jika kita membenarkan jangan-jangan dia hanya mengaku-ngaku saja dan memanfaatkan kita untuk berbuat yang menguntungkan dirinya. Jika kita menyalahkannya jangan-jangan dia benar telah berkomunikasi dengan Tuhan dan mengemban misi tertentu.

Ah…entah….mungkin yang terpenting adalah kita mempunyai dan terus memupuk iman kita tanpa mengharapkan suatu keajaiban atau dukungan. Mungkin sebaiknya kita membiarkan seseorang yang mengaku dirinya nabi, karena hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu.

Mungkin sebaiknya kita hanya diam, merenung, dan terus berefleksi akan tindakan, sikap, dan perilaku kita terhadap sesama agar paling tidak kita bisa "selamat" walau tidak ada bantuan dari orang lain.

Mungkin sebaiknya kita hanya diam ketika melihat ada orang lain diluar sana yang mengaku dirinya suci dan mengklaim dirinya sebagai alat Tuhan untuk menghancurkan kita, karena hanya Tuhanlah yang akan menghakimi kita semua nantinya

Mungkin kita sebaiknya hanya diam saja ketika ada orang yang mengaku dirinya sebagai seorang nabi, karena kita sudah mempercayai siapa Nabi terakhir Tuhan.

Mungkin sebaiknya kita tidak menghakimi orang lain karena untuk masalah iman hanya Tuhanlah yang tahu.

Itu semua hanya pendapat subjektif saya, mungkin anda mempunyai pandagan dan pendapat yang berbeda. Saya yakin semuanya benar, yang terpenting mungkin kita harus membiarkan pendapat saudara-saudara tersebut, tidak menghakimi atau menyalahkannya karena kita mungkin belum mengetahui kebenaran yang benar-benar benar seacra langsung.

Categories: Religions
  1. August 10, 2010 at 3:21 pm | #1

    Mau ngaku nabi, mau ngaku tuhan silahkan saja….tapi jangan bawa-bawa ISLAM !!!
    kalau bawa-bawa ISLAM urusannya berbeda bung….
    (http://starjogja.wordpress.com/)

  2. gunawank
    December 11, 2009 at 10:49 pm | #3

    Ya harus diluruskan jika kita punya kemampuan, agar tidak menyebarkan kekeliruan kepada masyarakat awam khususnya.

    Terima kasih atas komentarnya pada “Angket Bank Century”, dan saya juga telah menanggapi komentar anda. Silakan dicek !

    • October 9, 2010 at 1:23 pm | #4

      bagaimana kita menilai jika pendapat orang lain keliru?

  3. November 28, 2009 at 10:20 pm | #5

    Nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah untuk dirinya sendiri, berbeda dengan Rasul selain untuk dirinya, wahyu yang diterimanya harus disebar luaskan kepada orang lain. Dengan demikian, jika seseorang mengaku nabi, mungkin…silakan saja selama tidak menyebarkannya kepada orang lain, karena apa yang dia lakukan hanya berkaitan dengan dririnya dan Tuhan. Tetapi yang jadi masalah, orang yang mengaku nabi ini menyebarkan ajarannya kepada orang lain….Ini yang menyebabkan keresahan di masyarakat. Dalam hal ini tentunya kita tidak boleh tinggal diam dan membiarkannya.

    • December 9, 2009 at 8:35 am | #6

      Apakah tidak cukup dengan hanya membiarkannya saja ? Jika dia yang mengaku dirinya nabi ini salah, akhirnya akan ketahuan juga, dan sebaliknya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.